Cara Mudah dan Lengkap Budidaya Walet Hingga Berhasil Part 2

Artikel ini merupakan artikel kami yang ke-2 atau kelanjutan dari artikel ke-1 tentang “Cara Mudah dan Lengkap Budidaya Walet Hingga Berhasil Part 1“. Ada banyak kemiripan antara seriti dan walet meskipun secara detail dan rinci terdapat banyak perbedaan. Beberapa perbeda-annya antara lain suara, paruh, cekung sayap saat terbang, warna bulu, dan jenis sarang. Perbedaan yang cukup mudah diketahui adalah dari jenis sarangnya.

Cara Mudah dan Lengkap Budidaya Walet Hingga Berhasil Part 2

Sarang seriti terbuat dari rerumputan dengan perekat air liur. Sementara sarang walet didominasi oleh air liur. Harga jual kedua jenis sarang tersebut terpaut sangat jauh. Dari uraian tersebut dan pemahaman selama ini, budidaya walet akan selalu didahului oleh pembudidayaan seriti.

Budidaya burung walet yang terjadi hingga sekarang ini memang seperti itu. Sangat wajar bila muncul pertanyaan seperti :

  • Apakah satu-satunya cara untuk budidaya burung walet harus meminjam jasa burung seriti?
  • Apakah tidak ada jenis burung lain yang dapat digunakan sebagai batu loncatan dalam bu­didaya burung walet?

Secara singkat perlu disampaikan di awal bahwa ada burung lain yang dapat digunakan sebagai batu loncatan ke arah budi daya walet, yaitu burung seriti kembang. Dengan serangkaian proses uji coba akhirnya tidak sedikit peternak burung walet yang mengikuti jejak penulis tersebut untuk menuai keberhasilan.

Selain dengan cara tersebut, sebagai batu loncatan agar ge­dung walet dapat dihuni walet adalah dengan penetasan telur menggunakan mesin tetas. Cara budidaya burung walet ini memang sudah umum dilakukan peternak atau pengusaha walet karena dianggap cukup baik mendatangkan populasi walet. Atau jika Anda penasaran bagaimana cara membuat mesin penetas telur tersbut, Anda bisa mengunjungi halaman berikut “cara membuat alat penetas telur“.

Sebenarnya syarat terpenting dalam penetasan telur burung walet adalah kecukupan suhu dalam bentuk energi panas untuk menghidupkan embrio telur. Energi panas tersebut harus tepat, yaitu 32°-35° C. Oleh karenanya, sumber energi panas tersebut dapat ber-asal dari benda apa pun.

Dalam penelitian coba-coba (trial and error), budidaya burung walet dengan menetaskan telur walet melalui induk burung walet besar (Collocalia gigas). Warna bulu burung ini hitam dengan bagian bawah cokelat. Bulu ekor bercelah dan tungging putih atau merah muda. Suara-nya menderik keras. Tubuhnya memiliki panjang sekitar 17 cm.

Dalam cara budidaya burung walet, sarang burung walet ini biasanya dibuat di bawah jembatan, bagian luar gedung, atau tower air. Bahan sarangnya dari rumput kering dan sedikit perekat dari air liurnya. Sarang ini cukup besar, sekitar 25 cm, dengan penyusunan sarang tidak teratur rapi. Jumlah telurnya hanya satu butir dengan warna putih dan bentuk agak lonjong.

Telur burung walet yang ditetaskan dengan burung ini menetas pada hari ke-20 setelah dierami. Namun, dua hari setelah menetas anak walet tersebut akhirnya mati karena walet besar tidak dapat menyuapi anak walet, Ini disebabkan ukuran paruh walet besar lebih besar dibanding paruh walet.

Pengalaman serupa pun dilakukan Bapak H. Erwan M.S. di lokasi rumah desa Penagan, Pangkal Pinang. Di rumah tersebut ada lima sarang burung walet besar. Telur di masing-masing sarang diganti dengan telur walet yang masing-masing dua butir telur. Proses penetasan berhasil baik, tetapi proses pemeliharaan tidak berhasil seperti dialami penulis.

Kegiatan budidaya walet dengan penetasan telur bukan hanya dilakukan karena kasus gedung kosong, tetapi juga karena populasi walet sudah semakin menyusut. Ada beberapa penyebab terjadinya penyu-sutan populasi walet dalam gedung, yaitu sebagai berikut.

  • Terjadinya perubahan iklim mikro dalam gedung seperti suhu, kelembapan, dan pencahayaan sehingga kondisi mikrohabitat dalam gedung tidak sesuai lagi dengan kebutuhan walet. Untuk hal ini kemungkinan yang terjadi adalah pindahnya sebagian walet ke gedung lain.

  • Terjadinya kebocoran plafon gedung yang terbuat dari papan, tripleks, atau asbes sehingga membasahi bagian dalam gedung bila hujan. Dapat juga plafon dari semen cor yang di bagian atasnya dibuatkan kolam air menjadi retak sehingga sirip-sirip menjadi basah. Padahal walet akan sulit membuat sarang pada papan sirip yang basah.

  • Adanya binatang pengganggu di dalam gedung seperti tikus, tokek, kelelawar, atau burung hantu sehingga walet merasa terancam dan tidak aman.

  • Di sekitar gedung banyak terdapat musuh alami walet seperti elang dan burung hantu. Walet sebagai burung lemah sering menjadi santapan empuk burung pemangsa tersebut.

Penyebab-penyebab tersebut harus dikaji dan ditangani terlebih dulu sebelum memulai program budidaya burung walet dengan cara penetasan telur. Bila tidak, kemungkinan penetasan telur burung walet menjadi sia-sia atau kurang optimal. Selain itu, perlu adanya tindakan pencegahan sebelum penyebab tersebut terjadi.

Populasi burung walet semakin menyusut dapat saja diakibatkan oleh cara panen yang salah, baik untuk walet gua maupun walet gedung. Biasanya sarang dipanen dengan cara membuang telur yang ada di dalamnya sehingga hilang kesempatan bagi walet untuk beregenerasi.

Dalam sistem panen sarang burung walet dikenal beberapa cara, yaitu panen tetasan, panen buang telur, dan panen rampasan. Panen tetasan dilakukan setelah piyik walet dapat terbang mencari makanan sendiri. Panen buang telur dilakukan saat burung sudah bertelur.

Sementara panen rampasan dilakukan saat burung walet baru selesai membuat sarangnya, tetapi belum bertelur. Bila panen sarang ini tidak direncanakan dengan baik dan tidak memperha-tikan asas kelestarian populasi maka akan berakibat buruk pada perkembangan populasi walet.

Menurunnya populasi burung walet juga dapat disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Dibukanya suatu kawasan industri biasanya dapat menyebabkan daya dukung alam sebagai penyedia makanan berkurang, limbah pabrik dan polusi udara meningkat, serta makrohabitat walet terganggu seperti suhu udara relatif panas.

Suhu yang panas menyebabkan burung walet bermigrasi ke daerah lain yang lebih sejuk. Selain itu, penyemprotan bahan kimiawi untuk membasmi serangga hama di areal pertanian sangat besar pengaruhnya pada populasi walet. Walet tidak dapat memperoleh kecukupan makanan sehingga hams berburu hingga ke lokasi yang cukup jauh.

Padahal bisa saja burung walet tidak kembali ke gedung karena hujan, angin kencang, lelah (bagi walet muda), dimakan burung pemangsa, atau memperoleh hunian baru. Populasi berkurang bisa saja akibat dari suplai makan dari induk ke piyik berkurang atau interval penyuapan-yang panjang.

Ini dapat berakibat perkembangan piyik terganggu. Walaupun tampak hidup, namun piyik burung walet kurang sehat sehingga dapat saja berakibat pada kematian.

Untuk burung walet yang sedang mengerami telur pun belum dapat dipastikan dapat menambah populasi walet. Banyak terjadi bahwa induk walet mengalami hambatan dalam menetaskan telumya, seperti kurangnya makanan sehingga induk tampak tidak sehat ataupun jarak tempuh ke lokasi makanan cukup jauh sehingga waktu pengeramannya berkurang.

Kasus tersebut tentu menyebabkan program budidaya burung walet dengan cara penetasan telur walet menjadi sangat dibutuhkan untuk pengembangan populasi yang menyusut. Namun, akan jauh lebih baik lagi kalau walet ber-kembang secara alami agar kelestarian alam dapat dipertahankan.

Recent search terms: