Diabetes mellitus dan kehamilan

Soal ini harus kita tinjau dari beberapa sudut, yakni:

  1. Efek D.M. terhadap foetus
  2. Efek D.M. terhadap wanita yang hamil

III. Efek kehamilan terhadap D.M.

  1. Sewaktu hamil
  2. Setelah kehamilan selesai .
  3. Diagnosa
  4. Terapi (“management”)
  5. Beberapa hal lain.
  6. EFEK DIAB. MELLITUS TERHADAP FOETUS
  7. Abortus

Abortus spontan lebih sering terjadi pada Diab. Mellitus yang tidak dikontrol. Frekwensi abortus pada diabetisi yang mendapat pengobatan sama dengan non-diabetisi.

  1. Lahir mati (“Stillbirth”)

Makin lama kehamilan berlangsung makin besar risiko akan kematian intra-uterin. Sebab-sebab daripada ini disalahkan kepada:

– asidosis dan (pre) koma diabetikum

– toxaemia of pregnancy

– hydramnion

– juga: “hormonal dan biochemical disorders”

Lars Hagbard menganjurkan terminasi dari keharnilan sebelumnya minggu ke-38 untuk menghindarkan kematian intra-uterin.

  1. Kematian perinatal

Kematian perinatal pada orok-orok yang dilahirkan oleh diabetisi jauh lebih besar daripada neonati yang dilahirkan oleh nondiabetisi, frekwensinya bisa sampai 5-6 X lebih besar. Frekwensi kematian yang lebih besar ini disalahkan kepada terlalu besamya bayi (“oversized”), adanya udema (cerebral, paruparu) dan adanya kelainan-kelainan pada alat-alat dalam(“Embryopathia Diabetica”) Juga bayibayi ini menderita “respiratory disorders”, “hyperirritability ” dan ikterus. Semua kelainan-kelainan ini disebut sebagai “fetopathia Diabetica”.

Di samping ini neonati dari diabetisi bisa pula menderita hipoglikemi, asidosis, “electrolytic disorders” dan adanya membran-membran hyalin di paru-paru. “Respiratory disorders” bisa berupa keadaan sesak nafas yang disebabkan oleh atelektase-atelektase kecil-kecil di paru-paru dan bisa pula berupa serangan-serangan sianotik yang mungkin disebabkan oleh udema cerebral atau udem di paru-paru. Ikterus yang timbul bisa disebabkan oleh “functional immaturity” dari hepar atau oleh karena suatu penyakit hemolitik.

  1. EFEK DIAB. MELLITUS TERHADAP WANITA YANG HAMIL
  2. Toxaemia

Kira-kira 25% dari diabetisi yang mengandung menderita toksemia. Pada toksemia terdapat konsentrasi “chorionic gonadotropin” yang tingg di dalam darah dan urin, sedangkan kadar Estrogen dan Pregnanediol adalah rendah. Sebab dari perubahan kadar steroid-steroid ini disalatrkan kepada plasenta yang degeneratif. Pada diabetisi sering terdapat degenerasi d.ari plasenta, terutama pada mereka yang mempunyai ,’vascular complications,, dan lebih lagi pada mereka yang menderita ,,diabetic nephropathy”. Dalam hal demikian risiko obstetrik makin besar oleh karena kemungkinan komplikasi toksemia lebih besar dan wajiblah dipikirkan “therapeutic abortion”.

  1. Hidramnion

Lebih sering terdapat pada diabetisi, akan tetapi koirelasi antara hidramnion dan Diabetes Mellitus belum jelas.