Tahapan Lengkap Menetaskan Telur Walet Part 2

Tahapan Lengkap Menetaskan Telur Walet Part 2 – Pada artikel sebelumnya pada “Tahapan Lengkap Menetaskan Telur Walet Part 1” telah kami bahas tentang cara mendapatkan telur walet hingga tahapan menyeleksi telur burung walet. Dan di artikel yang ke-2 tentang tahapan menetaskan telur walet, kami akan membahas lebih lanjut tantang :

Tahapan Lengkap Menetaskan Telur Walet Part 2

A. Transportasi Telur
Pada program “putar telur”, kendala yang dihadapi peternak dalam menetaskan telur walet di antaranya adalah pengadaan telur. Terkadang untuk mendapatkan atau membeli telur walet harus menempuh jarak cukup jauh. Agar penetasan berhasil dengan baik, umur telur harus disesuaikan dengan jarak transportasinya.

Bila jaraknya jauh, sebaiknya telur dipilih yang tua atau setengah tua. Memang telur tua dikhawatirkan akan menetas di perjalanan. Namun, hal itu tidak bermasalah karena piyik walet masih kuat untuk tidak mendapatkan makanan selama 6-12 jam.

Bila dipilih telur muda, risiko retak sangat besar karena kulijt telur muda relatif tipis dibanding telur setengah tua atau tua. Selain itu, embrio telur muda pun belum kuat sehingga tidak tahan goncangan selama perjalanan. Telur yang tergoncang dapat menjadi infertil.

Dalam praktik, pemilahan umur telur terkadang sangat sulit dilakukan. Salah satu sebabnya adalah jumlah atau stok telur walet sangat terbatas sehingga peternak lebih cenderung untuk membeli semua telur walaupun umurnya bervariasi.

Alat untuk membawa telur walet berupa kotak tripleks yang di dalamnya diberi spon berlubang 1 cm x 1 cm. Jarak antarlu-bang 1 cm. Ketebalan spon sebaiknya 1,5-2 cm agar telur berada di dalam lapisan spon. Hal ini untuk mengantisipasi agar telur tidak terguncang dan terhindar dari keretakan (untuk telur muda atau setengah tua).

Dalam satu kotak dapat diisi 1-2 lapisan spon, tergantung ketebalan kotak. Umumnya kotak tripleks yang digunakan berukuran 20 cm x 30 cm dengan ketebalan 8 cm sehingga dapat menampung dua lapisan spon. Setiap lapisan memuat 126 butir telur sehingga kotak dapat menampung sekitar 252 butir telur.

Transportasi dengan jarak jauh atau waktu tempuh membutuhkan sekitar 10 jam sebaiknya dilakukan pada malam hari karena suhu udaranya tidak panas. Bila dilakukan siang hari, sebaiknya menggunakan mobil ber-AC, tetapi temperaturnya jangan terlalu dingin.

Temperatur terlalu dingin dapat berakibat pada kematian embrio telur. Bila mobil tidak ber-AC, lapisan spon hams dibasahi dengan air agar terjaga kelembapannya selama perjalanan.

B. Perlakuan Telur
Setelah menempuh perjalanan jauh, telur sebaiknya diseleksi kembali. Seleksi ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadi kematian embrio atau keretakan kulit telur.

Bila tiba siang hari, setelah diseleksi sebaiknya telur segera ditetaskan atau diletakkan pada sarang seriti atau seriti kembang. Ini dilakukan agar kehidupan embrio tetap terjaga.

Bila akan disimpan atau telur masih muda, telur dimasukkan dalam mesin tetas. Setelah berumur tua, telur ini dapat digunakan untuk program “putar telur”. Dengan cara ini induk seriti ataupun seriti kembang hanya membutuhkan waktu yang tidak.lama untuk mengerami telur walet tersebut.

Namun, bila telur yang disimpan dalam mesin tetas akhimya sudah menetas, piyiknya tetap dapat digunakan. Caranya ialah dengan menukarkan telur seriti atau seriti kembang dengan piyik walet. Dari pengalaman penulis, induk seriti ataupun seriti kembang tetap mau menerima dan memelihara piyik walet tersebut seperti anaknya sendiri.

Recent search terms: