Secara ringkas hasilnya hambatan sintesa asam nukleat

asam-nukleatsintesisproteinedit-3-638

Obat lain metotrekat yang bekerja sebagai antagonis asam folat yang menglambat sintesa asam nukleat. N-mustard yang berasal dari siklofosfamida biasanya menyerang ADN dengan alkilasi dan hubungan silang sehingga menghalangi duplikasiyang benar pada waktu pembelahan sel. Zat ini kelihatannya berusaha sukuat-kuatnya untuk merusak sel selama mitosis dan karenanya sangat ampuh bira digunakan setelah masuknya antigen pada saat sel-sel yang peka antigen itu membelah. Steroid-steroid seperti prednisolon menghalangi beberapa respons imun tetapi lebih berdayaguna sebagai obat antiperadangan yang menghambat kerja efektor dari reaksi penolakan cangkokan. Azatioprin diketahui juga menghambat peradangan dan beberapa pendapat mengatakan bahwa ia bekerja lebih sebagai obat antiradang daripada imunosupresif pada dosis yang digunakan untuk pengobatan penderita diabetes secara medis manusia dan ia biasanya dipakai dalam kombinasi dengan prednison.

Globulin antilimfosit (GAL)

Pada saat ini telah timbul lagi perhatian yang besar pada sifat-sifat imunosupresi serum antilimfosit yang heterolog. Untuk membuat serum antilimfosit manusia, dilakukan imunisasi pada kuda dengan timosit atau limfosit dari duktus torasikus manusia, serum dikumpulkan dan diserap oleh sel-sel darah merah untuk melepaskan aglutinin, terakhir fraksi globulin dipisahkan.

Cara kerja. Pada mencit dan tikus, GAL dapat memperpaniang hidup pencangkokan kulit yang seienis. Jika diberikan pada binatang yang telah disensitisasi dengan penolakan cangkokan kulit, akan dapat menghilangkan ingatan akan kontak primer dengan antigen tersebut dan jika dirangsang beberapa waktu kemudian dengan cangkokan kedua dari donor vang sama, akan timbul penolakan pertama, bukan kedua, seolah-olah binatang tersebut masih “perawan” secara imunologik dalam hubungannva dengan antigen-antigen yang histokompatibilitas itu. Reaksi-reaksi antara tuan rumah dan pencangkokan serta reaksi antibodi humoral vang menyangkut kerja sama sel-T terutama juga peka terhadap pengobatan dengan GAL, memberikan kesan bahrva limfosit-T merupakan sasaran utama. Sesuai dengan pendapat ini:

(i)    GAL mengosongkan daerah “ketergantungan timus” dari jaringan limfoid. Limfosit-limfosit itu digantikan oleh sel-sel histiosit, dan

(ii)    Setelah GAL terjadi penurunan yang tajam dari kesanggupan limfosit perifer untuk menyebabkan transformasi sel-batang sebagai reaksi atas HAF (sebagian besar suatu sifat limfosit-limfosit-T; hal.203). kembalinya kepekaan terhadap HAF dihambat dengan timektomi(gambar 8.13) menunjukkan pentingnya pematangan sel-T untuk penyembuhan dari lesi GAL.