Sejumlah dokter meresepkan rokok sebagai penawar influenza dan demam

flu-tulangBahkan ada yang percaya bahwa rokok yang dihisap dalam-dalam bisa menyembuhkan penyakit pes. Tatkala wabah pes merajalela di tahun 1603, semua anak sekolah di Eton diharuskan merokok dalam sekolah di waktu pagi, demikian seorang yang bernama Tom Rogers, yang juga berkata bahwa dia belum pernah dicambuk sekeras yang diterimanya suatu pagi ketika dia tidak merokok.  Terlepas dari kampanye anti rokok yang dijalankan oleh beberapa raja sesudah James, demikian pula tantangan Kaisar Jehangir di India, penggunaan cara alami untuk menurunkan kadar gula darah tembakau dengan cepat tersebar di seluruh Eropa dan kemudian, melalui dunia perdagangan serta jaringan-jaringan sistem kolonial, di seluruh dunia.

Sebagaimana di katakan oleh seorang pencinta pipa di tahun 1895 sehubungan dengan penyebaran tembakau, “pangeran dan petani sama-sama menyerah kepada pengaruhnya yang lembut tapi tak tertahankan.” Di Italia abad kedelapanbelas, demikian Ramazzini, tembakau dihisap atau bahkan dihirup dalam-dalam oleh “kaum wanita sama halnya dengan kaum pria dan bahkan anak-anak,” dan pengeluaran untuk itu “dihitung termasuk pengeluaran harian paling banyak dalam keluarga.” Dengan penyebarannya yang pesat dan luas, tembakau telah menjadi salah satu barang yang paling tersebar dalam kurun modern umat manusia.Ketika sekelompok manusia jaman batu, yakni orang-orang Tasaday, baru-baru ini ditemukan di hutan rimba Filipina, ketak-kenalan mereka pada tembakau dipandang oleh para ahli antropologi sebagai bukti yang sangat jelas dari lamanya mereka terisolasi.

(Tanpa sadar bahwa mereka memperlihatkan kebijakan, orang Tasaday ini mengembalikan tembakau yang ditawarkan oleh para penemunya, akan tetapi tetap menerima pisau, pakaian, busur dan panah, beras dan garam.) Permintaan yang semakin meluas dan karenanya pasaran tembakau yang semakin bertumbuh di Eropa abad keenambelas dan ketujuhbelas memacu bangkitnya industri yang menguntungkan. Para kolonis Inggris yang bermukim di Virginia dan pada mulanya berharap mendapatkan keuntungan dari sekian logam berharga, kayu, kulit bulu dan iklan yang semuanya terdapat di Dunia Baru itu, kemudian justru terpikir bahwa hanya ekspor tembakau yang bisa membuat koloni mereka tetap jaya. Virginia nyaris ditinggalkan di tahun 1614, akan tetapi tak lama kemudian tembakau memakmurkan koloni tersebut.