TIDAK ADANYA ANTIGEN PADA SEL-SEL PLASMA

Dengan menggunakan otoradiografi untuk melihat antigen radioaktif yang berkombinasi dengan imunofluoresensi pada identifikasi sel-sel yang membuat antigen khusus, Nossall memperlihatkan bahwa hampir semua sel-sel yang mengandung antibodi intraselular tidak memiliki molekul-molekul anrigen yang dapat diperlihatkan. Ini jelas berbeda dengan pemikiran bahwa antigen bertindak selaku cetakan. Adjuvan Freund yang merangsang aktivitas sel-T hanya memperbaiki respons terhadap antigen yang tergantung timus. Ada kira-kira 10 gen yang mengatur seluruh respons antibodi terhadap antigen-antigen kompleks; beberapa mempengaruhi penanganan antigen makrofaga dan beberapa mempengaruhi kecepatan perkembangan sel-sel-B yang berdiferensiasi. Gen yang menentukan antibodi untuk kekhususan tertentu dapat diturunkan bersama dengan (misalnya lterikat pada) pertanda genetik untuk rantai panjang.

Sel-2Bplasma-400x267Gen respons imun yang terikat pada tempat histokompatibilitas utama menentukan hasil (dengan kekhususan Ai) dari sel-sel-T dan-B yang mengatur interaksi yang diperlukan untuk kerja sama T-B. Pengaturan respons antibodi sangat dipengaruhi oleh konsentrasi antigen; karena respons ditentukan oleh antigen, dengan menurunnya kadar antigen efektif yang disebabkan oleh penguraian dan umpan balik antibodi, maka pembentukan antibodi akan berkurang pula, sel-sel-T mengatur respons-respons limfosit-B tidak saja dalam bentuk. bantuan kerja sama tetapi juga dengan aktivitas sel-T penekan. ?erkembangan klon dihalangi oleh perkembangan suatu respons imun terhadap idiotipe antibodi; suatu kerangka yang saling terjalin berdasarkan aras pengenalan idiotipe dalam sistem limfosit merupakan mekanisme pengarur (Jerne).

Toleransi imunologik dapat ditimbulkan dengan kontak antigen dalam masa neonatal dan (lebih sulit) dalam masa dewasa. Sel-sel-T lebih mudah menjadi toleran daripada sel-sel-B. Penghapusan sel-sel khusus atau pembentukan sel-sel-T penekan dapat terjadi. Toleransi terhadap antigen yang tergantung pada T dapat dipatahkan dengan antigen-antigen yang bereaksi silang, yang mengerahkan sel-sel-T pembawa khusus yang baru. Sel-sel hemopoetik awal yang multipoten dari sumsum tulang berdiferensiasi dalam timus, mungkin di bawah pengaruh hormon, timosin,. sehingga menjadi sel-sel-T yang imunokompeten. Pada mamalia sumsum tulang sendiri merupakan lingkungan-mikro untuk diferensiasi sel-sel-B. Pada manusia, IgG ibu adalah saru-satunya kelas yang menembus plasenta. Jaringan limfoid primitif dan sel-sel-B dan-T merupakan respons imun adaptif dan secara filogenetik dihubungkan dengan binatang bertulang punggung yang paling rendah.